Lewati ke konten utama
Teknologi

Menelisik Erupsi Anak Krakatau September 2026 dan Sejarah Panjang di Selat Sunda

Anak Krakatau erupsi 4-5 September 2026 dengan lava fountain. Aktivitasnya terkait sejarah kaldera 1883 dan potensi bahaya sekunder di Selat Sunda.

BagikanBagikan artikel ini

Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas signifikan pada awal September 2026. Erupsi tercatat mulai Jumat, 4 September pukul 23.07 WIB dan berlanjut hingga Sabtu dini hari di perairan Selat Sunda. Peristiwa ini langsung menjadi perhatian karena karakter letusannya yang terlihat jelas pada malam hari serta posisinya sebagai gunung api yang tumbuh di tengah laut.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan fase erupsi menerus tersebut berhenti pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Meski begitu, potensi letusan susulan masih dinilai tinggi. Kondisi ini menegaskan bahwa jeda erupsi belum berarti sistem magmatik telah kembali tenang.

Erupsi Awal September dan Fenomena Lava Fountain

Pemandangan udara Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda
Photo by Justineliza on Pexels · Source

Semburan yang muncul pada Jumat malam itu didominasi lava pijar berwarna merah menyala. Dalam istilah vulkanologi, semburan ini disebut lava fountain atau air mancur lava. Pancaran terjadi ketika gas yang terlarut dalam magma keluar dengan tekanan kuat. Dorongan tersebut mengangkat lava cair ke udara dan membentuk tiang api vertikal yang sangat terang.

Fenomena ini lebih mudah terlihat saat malam. Cahaya dari lava yang masih cair memantul kuat di langit sekitar kawah. Keberadaan lava fountain menandakan suplai magma yang masih cair dan kandungan gas yang cukup tinggi di dalam saluran kawah. Kondisi seperti ini sering muncul pada fase erupsi yang didorong oleh pelepasan gas yang intens.

Suara dentuman menyertai aktivitas tersebut. Getarannya terdengar hingga Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Pasauran, Banten. Jangkauan suara yang jauh mengindikasikan energi letusan yang besar. Sumbernya berasal dari pelepasan gas secara tiba-tiba dan fragmentasi magma di dalam kawah.

Dampak erupsi juga terasa pada peralatan pemantauan. Kamera CCTV di sekitar kawah dilaporkan mengalami gangguan setelah terkena lontaran material. Gangguan ini umum terjadi saat abu pekat menutup lensa atau saat fragmen piroklastik mengenai perangkat. Data visual sempat terganggu, namun pemantauan tetap berlanjut melalui instrumen lain.

PVMBG mencatat aktivitas menerus kemudian mereda pada Minggu dini hari. Pernyataan berhenti merujuk pada fase semburan yang tidak lagi berlangsung terus-menerus. Namun sistem di bawah permukaan masih perlu diwaspadai. Pada gunung api aktif, jeda sering diisi oleh degassing, kegempaan, atau perubahan deformasi yang tidak selalu tampak dari luar.

Jejak Kaldera 1883 hingga Kelahiran Pulau Baru 1929

Petugas memantau data seismik dan gas vulkanik di pos pengamatan
Photo by Los Muertos Crew on Pexels · Source

Keberadaan Anak Krakatau tidak terlepas dari letusan besar Gunung Krakatau pada 1883. Peristiwa itu menghancurkan sebagian besar tubuh gunung induk. Runtuhnya atap dapur magma setelah volume material yang sangat besar dikeluarkan membentuk cekungan luas. Cekungan inilah yang dikenal sebagai kaldera di Selat Sunda.

Kaldera tersebut menjadi wadah bagi aktivitas baru. Selama puluhan tahun setelah 1883, permukaannya tampak tenang. Di bawah laut, sistem magmatik tetap bekerja. Magma terus mencari jalan melalui rekahan di dasar kaldera.

Pada akhir 1927, erupsi kembali terdeteksi di kawasan kaldera. Saat itu seluruh aktivitas masih berada di bawah permukaan laut. Material vulkanik yang dikeluarkan belum membentuk daratan. Lava bantal, breksi, dan abu menumpuk di dasar laut secara bertahap.

Penumpukan yang berlangsung terus-menerus akhirnya melampaui permukaan air. Pada tahun 1929, sebuah daratan baru muncul. Daratan inilah yang kemudian dinamai Gunung Anak Krakatau. Nama tersebut merujuk pada posisinya yang lahir dari sisa sistem Krakatau.

Sejak kemunculannya, proses pembangunan tubuh gunung terus berjalan. Lava, abu, dan fragmen vulkanik lain keluar dari kawah dan menumpuk di sekitarnya. Lapisan demi lapisan menambah tinggi dan memperluas area gunung. Badan Geologi mengkategorikan Anak Krakatau sebagai gunung api aktif tipe A di wilayah perairan. Kategori ini diberikan untuk gunung dengan catatan erupsi dalam sejarah modern dan memerlukan pemantauan rutin.

Sebagai gunung yang usianya baru sekitar satu abad, Anak Krakatau masih dalam fase pertumbuhan. Strukturnya tersusun dari material lepas yang belum sepenuhnya memadat. Kondisi ini membuatnya lebih mudah mengalami perubahan bentuk. Penambahan material baru bisa terjadi cepat. Di sisi lain, lereng juga lebih rentan terhadap keruntuhan.

Sinyal Peningkatan Aktivitas Sejak Juni 2026

Semburan lava fountain merah menyala dari kawah gunung api pada malam hari
Photo by Carlos on Pexels · Source

Erupsi September 2026 tidak muncul tanpa tanda. Badan Geologi mencatat peningkatan aktivitas sudah terdeteksi sejak beberapa bulan sebelumnya. Sejak Juni 2026, satelit merekam emisi gas sulfur dioksida atau SO2 dan anomali panas di sekitar kawah.

SO2 merupakan gas magmatik. Kenaikannya sering dikaitkan dengan pergerakan magma segar yang naik mendekati permukaan. Ketika magma naik, gas yang terlarut di dalamnya terlepas dan terdeteksi di udara. Anomali panas dari sensor termal satelit menunjukkan suhu permukaan yang meningkat. Sumbernya bisa berasal dari lava yang mendekati kawah atau batuan yang terpanaskan oleh konduit magma.

Kombinasi kedua sinyal ini menjadi perhatian utama. Keduanya muncul bersamaan dan bertahan selama beberapa waktu. Hal itu mengindikasikan sistem magmatik yang sedang aktif dan perlu pemantauan lebih intensif.

Setelah sinyal gas dan termal, indikator lain ikut menguat. Kegempaan vulkanik meningkat. Pola ini mencerminkan pergerakan fluida magmatik dan rekahan batuan di dalam tubuh gunung. Asap kawah juga teramati lebih intens. Degassing berlangsung lebih aktif dari biasanya.

Rangkaian data tersebut mendorong penyesuaian tingkat aktivitas. Pada 2 Juli 2026, status Anak Krakatau dinaikkan dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga. Kenaikan status didasarkan pada tren data yang konsisten. Keputusan tidak diambil dari satu kejadian tunggal, melainkan dari akumulasi parameter yang saling menguatkan.

Pada dasarnya gunung api adalah sistem yang terus bergerak. Magma dari kedalaman naik melalui rekahan menuju permukaan. Saat mencapai permukaan, magma berubah menjadi lava dan material vulkanik lain. Material itu kemudian menumpuk di sekitar kawah. Jika proses ini berulang, tubuh gunung bisa bertambah tinggi dan berubah bentuk. Namun pertumbuhan tidak selalu stabil. Distribusi material yang tidak merata dapat membuat lereng menjadi curam dan tidak seimbang.

Status Siaga dan Makna Pemantauan

Perubahan dari Waspada ke Siaga menandakan aktivitas telah melampaui latar belakang normal. Pada level ini, rekomendasi jarak aman biasanya diperluas. Frekuensi pelaporan juga ditingkatkan. Koordinasi dengan BMKG dan pemerintah daerah di pesisir Selat Sunda menjadi lebih intensif.

Bagi masyarakat dan pelaku pelayaran, status Siaga adalah penanda untuk menghindari area yang telah ditetapkan. Informasi resmi dari PVMBG menjadi rujukan utama. Pengamatan visual saja tidak cukup untuk menilai bahaya. Data instrumen memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang kondisi di dalam gunung.

Status Siaga juga berarti pemantauan dilakukan lebih ketat. Setiap perubahan kecil pada kegempaan, deformasi, atau emisi gas dicatat dan dianalisis. Tujuannya adalah menangkap tanda awal jika sistem kembali menuju erupsi.

Pelajaran dari 2018 dan Risiko Tsunami Non-Tektonik

Anak Krakatau menunjukkan bahwa pertumbuhan gunung tidak selalu berarti penambahan tinggi yang permanen. Pada tahun 2018, aktivitas vulkanik memicu ketidakstabilan pada sebagian tubuh gunung. Sebagian lereng longsor ke laut dalam waktu singkat.

Material yang masuk ke laut dalam jumlah besar menggeser kolom air secara tiba-tiba. Peristiwa itu memicu tsunami pada 22 Desember 2018. Gelombang menghantam pesisir Banten dan Lampung. Kejadian ini mengubah cara pandang terhadap bahaya Anak Krakatau.

Selama ini perhatian sering tertuju pada bahaya langsung. Contohnya aliran lava, hujan abu, atau lontaran batu pijar. Peristiwa 2018 membuktikan bahwa perubahan bentuk gunung sendiri dapat menjadi sumber bahaya. Lereng yang tersusun dari material lepas dapat kehilangan penopang akibat intrusi magma atau gempa vulkanik. Erosi gelombang juga dapat memperlemah stabilitas.

BMKG menyatakan longsoran material vulkanik ke laut termasuk bahaya sekunder yang perlu dipantau. Potensinya adalah memicu tsunami non-tektonik. Istilah ini membedakan tsunami akibat longsoran atau aktivitas vulkanik dengan tsunami akibat pergeseran lempeng tektonik. Mekanisme pembangkitnya berbeda. Namun dampak di pesisir bisa sama merusak. Waktu tiba gelombang bahkan bisa sangat singkat karena jarak sumber dekat dengan garis pantai.

Pada erupsi September 2026, BMKG tidak mendeteksi tsunami maupun perubahan muka air laut yang mengindikasikan tsunami. Hal ini menegaskan satu hal penting. Tidak setiap erupsi, bahkan yang disertai lava fountain dan dentuman keras, otomatis menghasilkan longsoran besar. Potensi tsunami baru menjadi perhatian serius jika terjadi mekanisme tertentu. Faktor kunci adalah longsoran material gunung api dalam jumlah signifikan ke laut.

Oleh karena itu, tinggi kolom abu atau intensitas semburan saja tidak cukup untuk menyimpulkan risiko tsunami. Analisis harus melihat apakah ada perpindahan massa yang besar ke dalam air.

Pemantauan Menyeluruh di Gunung Api yang Masih Tumbuh

Karena berdiri di perairan, Anak Krakatau memerlukan pendekatan pemantauan yang menyeluruh. Para pakar tidak hanya melihat tinggi kolom abu atau frekuensi letusan. Beberapa parameter lain harus diamati bersamaan.

  • Perubahan bentuk gunung melalui data deformasi dan citra satelit untuk melihat pengembangan atau pengempisan tubuh gunung.
  • Pergerakan massa batuan melalui rekaman seismik dan pengamatan visual untuk mendeteksi longsoran atau perubahan garis pantai.
  • Aktivitas magma melalui kegempaan vulkanik dan emisi gas untuk memahami pergerakan fluida di dalam konduit.
  • Kondisi laut di sekitar gunung melalui tide gauge dan buoy untuk menangkap gangguan kolom air sejak dini.

Integrasi data tersebut memberikan gambaran yang lebih utuh. Setiap parameter menyumbang potongan informasi yang berbeda. Perubahan bentuk menunjukkan tekanan magma. Kegempaan merekam dinamika di dalam saluran. Emisi gas menandakan suplai magma segar. Data laut menjadi penanda akhir apakah ada gelombang yang terbentuk.

Sebagai gunung api yang relatif muda, Anak Krakatau masih mengalami pertumbuhan aktif. Setiap erupsi memiliki dua sisi. Di satu sisi, erupsi membangun tubuh gunung dengan material baru. Di sisi lain, erupsi mengubah keseimbangan lereng dan membuka peluang keruntuhan.

Itu sebabnya setiap aktivitas terbaru menjadi informasi penting bagi ilmuwan. Data dari erupsi September 2026, termasuk rekaman lava fountain, gangguan instrumen, dan pola kegempaan sejak Juni, akan menjadi bahan kajian. Tujuannya adalah memahami arah perkembangan gunung dan memperkirakan potensi bahaya di masa depan.

Bagi warga di sekitar Selat Sunda, pelajaran utama dari rangkaian peristiwa 2018 dan 2026 adalah pentingnya mengikuti pembaruan resmi. Kepatuhan terhadap radius aman dan kewaspadaan terhadap perubahan status adalah langkah mitigasi yang paling efektif. Bahaya tidak hanya berasal dari letusan yang terlihat. Dinamika di bawah permukaan dan stabilitas lereng juga menentukan tingkat risiko.

Sumber & Referensi

Referensi berikut digunakan sebagai bahan fakta/rujukan. Artikel disusun kembali secara editorial dan tidak dimaksudkan sebagai salinan sumber.

  1. Menelisik Sejarah Erupsi Anak Krakatau, Gunung Unik di Selat Sunda
Penulis

Digital Store

Lihat artikel penulis →
Bagikan artikel

Bagikan berita ini

Kirim ke teman atau simpan tautannya untuk dibaca lagi.