Lewati ke konten utama
Olahraga

Bonucci Hampir Gabung Manchester City, Ngaku Dikontak Guardiola

Leonardo Bonucci membongkar kenangan masa lalu saat nyaris menjadi pemain Manchester City. Ini kisah lengkap pengakuan bek Italia di podcast World Soccer Agency.

BagikanBagikan artikel ini

Leonardo Bonucci, salah satu bek terkuat dalam sejarah sepak bola Italia, tidak menutupi sebuah peluang emas yang sempat lewat di depan matanya. Dalam sebuah pembicaraan di podcast World Soccer Agency, bek legendaris tersebut mengaku nyaris hijrah ke Manchester City sekitar satu dekade lalu. Yang membuatnya menjadi sorotan bukan sekadar tawaran klub raksasa Inggris, melainkan fakta bahwa pelatihnya kala itu, Pep Guardiola, sudah langsung menelepon untuk merangkulnya.

Pengakuan ini memberikan gambaran lebih lanjut mengenai dinamika perpindahan pemain elite pada masa itu. Bagi para pengamat bola, ketertarikan langsung seorang Guardiola terhadap seorang bek tengah menandakan betapa tingginya kepercayaan pelatih asal Spanyol tersebut terhadap kualitas Bonucci. Namun, sejarah membuktikan bahwa hubungan itu tidak pernah terwujud menjadi kontrak formal di Old Trafford.

Waktu yang Tidak Menguntungkan di Tengah Euro 2016

Bonucci menceritakan kronologinya secara terperinci. Ia merujuk pada periode musim 2014/15 dan 2015/16, dua musim yang ia gambarkan sebagai titik puncak kariernya. Pada saat itulah Pep Guardiola mulai menangani Manchester City dan rasa tertariknya untuk merekrut Bonucci muncul secepatnya. Hal ini menunjukkan bahwa profil bek berusia muda saat itu sangat dicari oleh skuad City di era awal Guardiola.

Namun, momen telepon dari Guardiola datang pada waktu yang justru menuntut konsentrasi penuh Bonucci. Saat itu, ia sedang membela timnas Italia dalam persiapan menuju ajang Euro 2016. Sebagai pemain kunci negaranya, ia menyadari bahwa perbincangan soal pindah klub bisa mengganggu fokusnya. Ia harus memprioritaskan tugas internasional di tengah tekanan turnamen besar.

Situasi ini menciptakan dilema internal yang nyata. Di satu sisi, Bonucci mengakui pernah merasa ragu. Ia juga terbuka tentang hasrat pribadinya untuk mencoba berkarier di Liga Inggris. Pengalaman bermain di liga paling kompetitif di dunia memang menjadi tujuan banyak pemain top Eropa pada masa itu. Namun, di sisi lain, ia menyadari bahwa ia sebenarnya sedang bahagia di Juventus.

Hambatan Klub dan Refleksi Jangka Panjang

Akan tetapi, keraguan pribadi hanyalah salah satu bagian dari masalah. Faktor krusial lainnya datang dari klub tempat Bonucci mengabdi, Juventus. Dalam pernyataannya, bek Italia itu menyebutkan bahwa pada kala itu, klub tidak akan bersedia melepasnya dengan harga berapa pun.

Ini mencerminkan bagaimana institusi sepak bola di level klub bisa menentukan arah karir seorang pemain. Bahkan ketika ada minat dari pihak luar yang sangat kuat, termasuk dari pelatih sekelas Guardiola, kebijakan klub untuk mempertahankan pemain tetap berlaku. Juventus yang saat itu tengah berada di puncak performa domestik dan Eropa, tidak berniat membuka pintu bagi Bonucci untuk pergi.

Pandang ke belakang, Bonucci menilai bahwa kesempatan berlatih di bawah asuhan Guardiola sebenarnya berpotensi memberikan pengalaman lebih bagi perkembangannya. Ia menyadari bahwa asuhan tersebut bisa membuka peluang baru bagi perkembangan kariernya. Namun, keputusannya kala itu juga didasari oleh rasa puas dengan lingkungan yang sudah ia bangun bersama Juventus. Kombinasi antara komitmen timnas, fokus turnamen, dan keinginan klub untuk mempertahankan pemain membuat langkah ke Inggris menjadi tidak mungkin.

Kisah Menutup Karier dan Jejak Terakhir

Perjalanan karir Bonucci setelah keputusan tersebut berjalan sesuai garis besarnya sebagai pemain kelas dunia di Italia. Sebagian besar waktunya dihabiskan di Serie A bersama Juventus, sebelum akhirnya mengambil keputusan untuk menutup karier setelah musim panas 2024. Di ujung masa pensiunnya, ia sempat melanjutkan perjalanannya ke luar negeri,具体 ke Union Berlin di Jerman dan Fenerbahce di Turki.

Sekarang, saat duduk di kursi mantan pemain, pengakuan ini menjadi salah satu cerita menarik dalam portofolio hidupnya. Ia tidak menyembunyikan bahwa tawaran tersebut pernah ada dan bahkan sudah sampai pada tahap komunikasi langsung dengan pelatih. Namun, ia memilih untuk tetap setia pada pilihan yang sudah dipegang, termasuk di tengah masa-masa di mana ia berada di puncak profesionalisme.

Kisah Bonucci dan Manchester City ini menggarisbawahi satu hal penting dalam sepak bola modern. Peluang besar bisa datang dari arah mana saja, termasuk dari taktik pelatih yang sedang mencari penguat baru. Namun, keberhasilan karir juga sangat ditentukan oleh faktor timing, komitmen klub, dan prioritas pribadi pemain di saat itu. Bagi Bonucci, kebahagiaan di Juventus dan fokus pada Euro 2016 adalah alasan yang cukup untuk menolak tawaran tersebut, meskipun ia tetap menghargai potensi yang ditawarkan oleh Guardiola.

Sumber & Referensi

Referensi berikut digunakan sebagai bahan fakta/rujukan. Artikel disusun kembali secara editorial dan tidak dimaksudkan sebagai salinan sumber.

  1. Bonucci Ngaku Dulu Nyaris Gabung ke Manchester City
Penulis

Anisa Center

KesehatanLihat artikel penulis →
Bagikan artikel

Bagikan berita ini

Kirim ke teman atau simpan tautannya untuk dibaca lagi.